ANGKASA PURA II SIAP KUCURKAN RP 1,5 TRILIUN

April 15, 2016, Bisnis Indonesia

Direktur Utama PT Angkasa Pura II Budi Karya Sumadi mengatakan proses pembangunan jalan penghubung antarlandas pacu utara dan selatan itu akan dimulai pertengahan tahun ini. Saat ini, proses pembangunan itu masih dalam tahap penyelesaian masalah tanah.

“Kami yakin persoalan tanah itu bisa selesai dalam dua-tiga bulan ini, dan setelah itu pembangunan akan mulai berjalan. Kami targetkan east cross taxiway (ECT) itu bisa selesai pada akhir 2017,” katanya di Jakarta kepada Bisnis, Selasa (19/4).

Budi menjelaskan pembangunan east cross taxiway (ECT) memang membutuhkan waktu yang cukup lama. Alasannya, perusahaan pelat merah itu perlu melakukan restrukturisasi terlebih dahulu, baik dari sisi bisnis, teknis dan legalitas.

Selain itu, lanjutnya, pihaknya juga perlu mendapatkan izin dari para pihak-pihak yang berwenang dalam memberikan rekomendasi. Sayangnya, dia tidak menjabarkan pihak-pihak yang dimaksud itu.

“Kalau soal tanah itu sudah clear, understanding itu sudah tercapai, tetapi perizinannya harus governance. Artinya, jangan kami saja yang memutuskan, harus ada juga dari pihak lainnya yang memberikan izin,” tuturnya.

Terkait nilai investasi, Budi menyatakan anggaran yang dikucurkan melonjak dari perkiraan sebelumnya sekitar Rp 1 triliun. Dia beralasan banyak faktor yang mempengaruhi lonjakan tersebut a.l. parkir pesawat ditambah, penguatan landas pacu dan lain sebagainya.

Dia memastikan kenaikan nilai investasi tersebut tidak akan mempengaruhi arus keuangan perseroan. Adapun, pendanaan untuk proyek east cross taxiway tersebut akan berasal dari perbankan, obligasi dan internal perseroan.

“Enggak dari obligasi saja, akan di-blend dengan kucuran perbankan dan internal perseroan. Kita sudah rencanakan secara matang agar tidak mempengaruhi cash low, tapi kalau misalnya ada masalah, kami akan cari jalan keluarnya,” ujarnya.

Budi Karya optimistis kapasitas pergerakan pesawat di Soekarno Harra akan mencapai 100 pergerakan per jam seiring dengan pembangunan east cross taxiway tersebut. Apalagi, AP II juga menggunakan jasa konsultan yang sama, seperti di Bandara Heathrow London.

INSTRUKSI JONAN

Sementara itu, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan meminta AP II mempercepat pembangunan east cross taxiway guna meningkatkan kapasitas pergerakan pesawat di Soekarno-Hatta.

“Saya meminta Angkasa Pura II, untuk dua runway ini, harus ada east cross taxiway. Kalau ada, runway itu bisa diatur lebih baik, yang satu untuk take off, yang satu lagi untuk landing, ini sekarang kan campur,” tuturnya.

Jonan menilai belum adanya east cross taxiway tersebut menyebabkan kapasitas pergerakan pesawat di Soekarno-Hatta sulit untuk dinaikkan. Saat ini, kapasitas pergerakan pesawat di Soekarno-Hatta dibatasi maksimal 72 pergerakan per jam.

Selain itu, dia juga meminta BUMN bandara itu untuk memperkuat landas pacu, termasuk parkir pesawat dan lain sebagainya. Tak ketinggalan, dia juga meminta Perum Lembaga Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia, Air Nav Indonesia untuk segera menerapkan sistem automated untuk flight plan.

“Angkasa Pura II memang sedang bangun runway ketiga, tapi saya minta ini dulu diperbaiki. Kalau dual runway diperbaiki, east cross ada, automation flight plan ada, ini bisa menaikkan kapasitas hingga 100 pergerakan per jam.”

Seperti diketahui, AP II menyebutkan pembangunan east cross taxiway bakal dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan yakni pada 2016 dan selesai 2017 sebelum pelaksanaan Asian Games.

Infrastruktur tambahan yang bakal menghubungkan landas pacu utara dan selatan itu merupakan syarat utama pelaksanaan pemisahan fungsi landas pacu atau segregasi landas pacu.

Apabila tidak ada aral melintang, east cross taxiway di bandara tersibuk se-Indonesia itu akan terdiri dari dua jalur dan bisa dilewati oleh pesawat berbadan lebar sekelas Airbus A330, Boeing 777 maupun B747.

 

Supporting Partners

Sponsored by