Konstruksi Kian Kokoh

May 9, 2017, Bisnis Indonesia

Sejauh ini, 17 dari 20 emiten BUMN, telah menerbitkan laporan keuangan kuartal I/2017. Hasilnya, laba bersih 13 perusahaan milik negara meningkat, laba bersih 2 perusahaan turun, dan 2 lainnya merugi.

Peningkatan laba bersih paling drastic dibukukan oleh perusahaan-perusahaan sector konstruksi. PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA), dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), menjadi emiten BUMN dengan pertumbuhan laba bersih tertinggi masing-masing sebesar 241% dan 219%.

Pada kuartal I/2013, Waskita Karya mebukukan laba bersih Rp.5,4 miliar. Dengan demikian, perusahaan yang pernah menjadi ‘pasien’ PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) di masa lalu itu, membukukan peningkatan laba bersih Sembilan kali lipat dalam kurun 4 tahun.

Demikian pula Wijaya Karya yang membukukan laba bersih sebesar Rp.245,07 miliar pada kuartal I/2017 atau tertinggi dalam periode kuartal I setidaknya selama 7 tahun terakhir. Dua BUMN konstruksi lainnya, PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), dan PT PP (Persero) Tbk. (PTPP), membukukan peningkatan laba bersih masing-masing 79% dan 32%.

Peningkatan laba bersih yang tinggi lainnya dibukukan oleh PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) sebesar 161% menjadi Rp.870 miliar pada kuartal I/2017. Pencapaian itu diperoleh Bukit Asam setelah mengalami penurunan laba bersih beberapa tahun sebelumnya, terutama pada periode kuartal pertama.

Selain itu, PT Antam (Persero) Tbk. (ANTM), yang mebukukan kerugian pada kuartal I/2014 dan kuartal I/2015, mebukukan keuntungan senilai Rp.6,63 miliar pada kuartal I/2017 atau melanjutkan perbaikan yang juga dialami pada kuartal I/2016.

Di sector infrastruktur, perusahaan pengelola jalan tol PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR), membukukan laba bersih Rp.547 miliar pada kuartal I/2017 atau tertinggi dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.

Sementara itu, dua BUMN lain yaitu PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA), dan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS), membukukan kerugian pada kuartal I/2017. Krakatau Steel, BUMN yang merugi secara tahunan sejak 2012, menargetkan untung pada 2017.

Alfred Nainggolan, analis Koneksi Kapital, mengatakan terdapat dua isu utama yang diperhatikan oleh investor terhadap BUMN konstruksi. Pertama, soal pendanaan proyek yang dikerjakan. Menurutnya, BUMN konstruksi masih menghadapi isu pendanaan dalam mengerjakan berbagai proyek infrastruktur.

SOAL PENDANAAN

Kendati pertumbuhan kinerja mereka tinggi pada saat ini, ujar Alfred, investor masih menanti kepastian soal pendanaan infrastruktur itu.

“Pada 2013-2014, pertumbuhan mereka tidak setinggi sekarang. Akan tetapi waktu itu PE [rasio harga saham terhadap laba/price earning ratio] itu bisa sampai 30 kali-40kali. Sekarang, growth mereka double tapi PE mereka 13 kali-14 kali. Investor khawatir apakah pendanaan mereka [BUMN konstruksi] mendapat jaminan dari pemerintah atau tidak,” katanya.

Isu kedua adalah rencana pembentukan holding BUMN konstruksi. Alfred mengatakan investor menanti kepastian mengenai skema holding tersebut.

Menurutnya, sebagian investor memilih untuk berinvestasi di BUMN konstruksi karena perusahaan itu melakukan diversifikasi usahanya, tidak hanya di sector konstruksi, tapi juga property, energy dan sebagainya. “Jadi perubahan menyangkut kegiatan usaha perusahaan itu menjadi perhatian investor.”

Dalam suatu publikasi yang mengulas kinerja emiten secara umum pada kuartal I/2017, perusahaan sekuritas Deutsche Verdana Sekuritas Indonesia menyatakan sektor konstruksi paling agresif.

“Konstruksi adalah sektor paling agresif dibandingkan dengan lainnya dengan upgrade atau peningkatan hamper 20% dari tahun lalu, dipimpin oleh WSKT,” tulis Heriyanto Irawan, Research Analyst, Deutsche Verdana.

Dalam publikasi yang lain, JP Morgan mengomentari kuatnya kinerja Bukit Asam pada kuartal I/2017 akan menjadi tanda kebangkitan kinerja sektor batu bara di Asia Tenggara pada semester I/2017 karena bertahannya harga thermal coal di atas US$80 per ton.

Sementara itu, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGAS), menjadi BUMN yang laba bersih pada kuartal I/2017 melanjutkan tren penurunan dibandingkan dengan kuartal I tahun-tahun sebelumnya.

Direktur Keuangan PGN Nusantara Suryono mengatakan permintaan gas oleh industry secara keseluruhan masih lemah pada saat ini. “Masih ada peningkatan, tetapi belum seperti 2015,” katanya baru-baru ini.

Supporting Partners