Kontribusi Beton Pracetak Baru 17 Persen

October 8, 2015, Antara News

Jakarta (ANTARA News) – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengungkapkan kontribusi industri beton pracetak dan prategang terhadap pembangunan infrastruktur di Indonesia hingga saat ini masih sekitar 17 persen.

“Masih relatif kecil dibanding negara lain, terutama negara yang menggunakan pendekatan green dan clean building yang sudah mencapai angka 50 persen,” kata Direktur Bina Kelembagaan dan Sumberdaya Jasa Konstruksi, Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR, Yaya Supriyatna, di sela Penjelasan Pameran dan Seminar “Concrete Show South East Asia (SEA) 2015 pada 28-30 Oktober 2015”, di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, di tengah pasar konstruksi Indonesia per tahun sekitar Rp1.000 triliun dari 2014 hingga 2019, potensi dan kebutuhan beton pracetak dan prategang sangat besar untuk bertumbuh di Indonesia.

“Selama ini, prosentase 17 persen itu didominasi untuk menyuplai kebutuhan beton pracetak dan prategang bangunan dan jembatan, sedangkan untuk jalan, masih sangat minim,” kata Yaya.

Oleh karena itu, katanya, dia memperkirakan, pasokan dan kontribusi beton pracetak dan prategang akan meningkat hingga 30 persen dalam lima tahun mendatang.

Ia menjelaskan, kondisi itu sangat memungkinkan karena program percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia saat ini sangat membutuhkan kualitas beton yang siap pakai dan dapat disiapkan dalam waktu cepat serta kualitas yang bisa dikontrol.

Oleh karena itu, dia memberikan contoh, program pembangunan sejuta rumah yang dicanangkan Pemerintahan Jokowi-JK pada awal tahun ini untuk mengurangi kekurangan pasokan rumah sebesar 15 juta unit sampai saat ini, sangat pas bila menggunakan komponen beton pracetak dan prategang ini.

“Dengan beton pracetak dan prategang maka kebutuhan kekurangan rumah sekitar 300-400 ribu unti per tahun dapat dipenuhi,” katanya.

Rumah instan
Sekjen Ikatan Ahli Pracetak dan Prategang Indonesia (IAPPI), Hari Nugraha Nurjaman pada kesempatan itu menyatakan, pemanfaatan beton pracetak dan prategang untuk mendukung pembangunan sejuta rumah itu harus diikuti oleh regulasi berupa ketentuan dan standar rumah tipe tertentu, misalnya rumah tipe 36.

“Ya, standarisasi ini mutlak diperlukan agar pabrikan bisa menyiapkan beton pracetak dan prategangnya juga maksimal sehingga pembuatan rumah instan pada tipe tertentu dapat dilakukan. Awalnya program pemerintah, tetapi akhirnya masyarakat bisa memilikinya,” katanya.

Artinya, kata Hari, masyarakat nantinya bisa membangun rumah instan tipe tertentu dengan lebih cepat, misalnya hanya dalam waktu dua minggu.

Menanggapi hal itu, Yaya menegaskan, pihaknya sedang menyiapkan regulasi terkait rumah standar atau bangunan standar sehingga bisa diproduksi beton pracetak dan prategang secara massal.

“Sedang disiapkan regulasinya, terutama terkait dengan model dan disain. Sedangkan regulasi teknis sudah ada, misalnya komposisi beton, kolom dan sebagainya sudah ada,” kata Yaya.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pracetak dan Prategang Indonesia (AP3I) Wilfred Singkali menyebut, kapasitas terpasang industri beton pracetak dan prategang Indonesia saat ini sebesar 25 juta ton atau setara dengan 10 juta meter kubik atau setara dengan 30 juta meter persegi luas lantai.

Supporting Partners

Sponsored by