MASIH KOKOH DI KONSTRUKSI

March 29, 2016, Bisnis.com

Pertumbuhan laba bersih empat emiten BUMN sektor konstruksi sepanjang tahun lalu mencapai yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. Prospek sektor konstruksi bakal berlanjut tahun ini sejalan dengan pembangunan infrastruktur oleh pemerintah.

Laba bersih empat emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) konstruksi seperti PT Adhi Karya Tbk., PT Waskita Karya Tbk., PT Wijaya Karya Tbk., dan PT Pembangunan Perumahan sepanjang 2015 mencapai Rp2,88 triliun atau naik 45,21% dibandingkan dengan kinerja 2014 senilai Rp1,98 triliun.

Waskita Karya mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 104,68% menjadi Rp1,04 triliun pada 2015 atau satu-satunya BUMN konstruksi yang mampu membukukan laba bersih di atas Rp1 triliun dalam kurun waktu 2011-2015.

Kendati demikian, kontribusi laba bersih BUMN konstruksi itu masih relatif kecil. Dari 20 emiten BUMN yang telah menyampaikan laporan keuangan 2015,
total laba bersih BUMN konstruksi hanya 3,19% dari seluruh laba yang mencapai Rp90,34 triliun.

BUMN sektor perbankan masih menjadi penopang utama. Empat bank pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk., PT Bank Mandiri Tbk., PT Bank Negara Indonesia Tbk., dan PT Bank Tabungan Negara Tbk. mengumpulkan laba sebesar Rp56,65 triliun atau lebih dari 60% laba yang dihimpun.

Laba bersih emiten perbankan itu tumbuh tipis dibandingkan dengan pencapaian pada 2014 yang tercatat Rp56,01 triliun. Dari sisi kinerja secara keseluruhan, BRI masih menjadi pendulang laba tertinggi dengan menghimpun Rp25,39 triliun diikuti Bank Mandiri dengan nilai Rp20,33 triliun, dan PT Telekomunikasi Indonesia sebesar Rp15,49 triliun.

Selain kinerja yang moncer, ada sejumlah emiten BUMN yang merugi seperti PT Krakatau Steel Tbk. dan PT Aneka Tambang Tbk. Krakatau Steel merugi hingga Rp4,41 triliun, sedangkan Aneka Tambang mencatat kerugian sebesar Rp1,44 triliun.

Sementara itu, PT Garuda Indonesia Tbk. yang pada 2014 mengalami keru gian, mampu memperbaiki kinerja hingga berhasil membukukan laba bersih US$76,48 juta pada 2015.

Analis PT Ciptadana Securities Zabrina Raissa mengatakan kinerja BUMN sektor konstruksi dan perbankan cukup menarik perhatian dari investor karena tetap mampu membukukan pertumbuhan kinerja di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Melihat kinerja sepanjang tahun lalu, setiap kuartal emiten-emiten itu mampu membukukan kinerja meyakinkan. Menurutnya, kinerja positif BUMN konstruksi bakal berlanjut mengingat pemerintah tengah menggenjot pembangunan infrastruktur pada 2016. Proyek-proyek infrastruktur yang disiapkan pemerintah bakal berdampak terhadap kinerja emiten konstruksi.

“Untuk saham, top pick kami adalah Waskita Karya dan BRI,” katanya ketika dihubungi, Senin (28/3/2016).

Kinerja BRI, menurut Zabrina, bakal kembali ditopang oleh pembiayaan mikro pada 2016. Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) juga bakal berdampak positif terhadap kinerja perseroan.

Dihubungi terpisah, Kiswoyo Adi Joe, Analis PT Investa Saran Mandiri, juga memiliki keyakinan serupa terhadap kinerja BUMN sektor konstruksi. Salah satu BUMN yang dianggap memiliki kinerja menarik adalah Wijaya Karya.

Menurutnya, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung diharapkan dapat mendongkrak kinerja perseroan karena kebutuhan beton bakal menyerap beton yang diproduksi oleh anak usaha Wijaya Karya yaitu PT Wijaya Karya Beton Tbk.

Salah satu perkembangan yang ditunggu oleh investor terkait Wi jaya Karya, katanya, adalah rencana rights issue atau penerbitan saham baru. Kepastian dari rencana tersebut dianggap dapat ber pengaruh terhadap kinerja saham WIKA. Selain itu, Kiswoyo juga mencatat sektor semen sebagai sektor kuda hitam di tengah pembangunan infrastruktur.

“Kalau infrastruktur berjalan terus, kebutuhan semen akan meningkat, kinerja semen akan naik. Saham emiten semen juga akan naik,” katanya.

SESUAI PROYEKSI

Melihat kinerja secara keseluruhan, pertumbuhan laba bersih tertinggi dibukukan oleh perusahaan farmasi PT Indofarma (Persero) Tbk. sebesar 465% menjadi Rp6,56 miliar pada 2015 dibandingkan dengan Rp1,16 miliar pada 2014. Sebelumnya, emiten berkode saham INAF ini mengalami kerugian pada 2013.

Sebelumnya, Kementerian BUMN memperkirakan seluruh BUMN membukukan laba bersih sebesar Rp150 triliun pada 2015 atau mengalami penurunan 5% diban
dingkan dengan Rp159 triliun pada 2014.

Dari jumlah tersebut, 18 emiten BUMN membukukan laba bersih senilai Rp90,33 triliun pada 2015 atau turun dibandingkan dengan Rp91,59 triliun pada 2014 atau
sejalan dengan prediksi dari pemerintah.

Pada 2016, kuasa perwakilan pemegang saham memperkirakan laba bersih seluruh BUMN mencapai Rp172 triliun atau meningkat 14,6% dibandingkan dengan realisasi pada 2015.

BUMN dengan laba besar lainnya belum menjadi perusahaan terbuka seperti PT Pertamina (Persero) atau PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Dua BUMN itu selama ini juga mencatat laba bersih yang besar.

 

Supporting Partners

Sponsored by